Toleransi Umat Beragama

 

 

Indonesia merupakan negara Kepulauan dimana letaknya terletak di Asia Tenggara dan merupakan negara yang berada di tengah garis khatulistiwa yang diapit oleh dua benua yaitu benua Asia dan Benua Australia dan juga Indonesia diapit oleh dua Samudera yaitu Samudera Hindia dan juga Samudera Pasifik. Jumlah pulau yang dimiliki Indonesia Sendiri berjumlah 17.504 pulau yang mana Indonesia mendapat predikat sebagai negara dengan pemilik pulau terbanyak ke-6 di dunia. Akibat hal tersebut maka di Indonesia pun memiliki beragam ras,etnik, budaya, bahasa, suku, agama, dan adat istiadat. Yang akan saya bahas kali ini adalah soal agama. Untuk persoalan agama Indonesia sendiri memiliki aturan dimana untuk masyarakatnya diwajibkan untuk memeluk salah satu dari 6 agama yang diakui di Indonesia. Agama yang dimaksud adalah Islam,  Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.Yang mana tercantum dalam Undang Undang Dasar tahun 1945 dalam pasal 19 ayat 1 dan ayat 2 yang mana tertulis Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya. Dan Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam pengembangan agama sendiri tidak boleh adanya pemikiran dangkal dimana menganggap agama yang dianut lebih baik daripada agama-agama yang lain yang mana hal tersebut mengacu pada perilaku Etnosentrisme.

 Di Indonesia sendiri ada banyak kasus-kasus konflik antar umat beragama. Sebagai contohnya saya akan memberikan beberapa contoh Konflik yang terjadi di Indonesia ,yaitu Konflik Ambon pada tahun 1999 dimana konflik tersebut dipicu oleh insiden pemalakan yang dilkukan oleh 2 orang muslim terhadap warga nasrani. Kemudian konflik semakin membara saat adanya isu-isu yang menyebar dan membakar kedua belah pihak. Sehingga menyebabkan adanya korban jiwa dengan total 12 orang tewas dan ratusan luka-luka.

Kemudian  yang kedua ada Konflik antara Desa Balinuraga dan Desa Agom yang terjadi di Lampung Selatan. Desa Balinuraga mayoritas dihuni oleh penduduk dengan agama Budha. Sedangkan Desa Agom mayoritas dihuni umat muslim. Pada dasarnya konflik ini bukan didasari oleh hal yang bersifat dan berhubungan dengan keyakinan yang dianut seperti juga latar belakang konflik suriah . Penyebab yang menyulut konflik ini adalah adanya gadis Desa Agom yang digoda oleh pemuda dari Desa Balinuraga. Kejadian tersebut lalu menyulut amarah warga desa Agom sehinga mengunakan cara kekerasan dengan menyerang warga Balinuraga. Tidak terima dengan hal tersebut warga Baliuraga membalas menyerang. Aksi yang menimbulkan reaksi, beberapa pihak diturunkan untuk meredam suasana. Kemudian setelah melalui proses mediasi akhirnya konflik ini dapat terselesaikan, dan kondisi kembali kondusif.

Yang ketiga yaitu ada Konflik Situbondo yang terjadi pada 10 Oktober 1996 Konflik ini dipicu karena adanya ketidakpuasaan atas hukuman yang diterima oleh seorang penghina agama islam. Kemudian si penista agama ini disembunyikan didalam gereja seperti juga akibat konflik Palestina dan Israel . Hal itulah yang kemudian memicu timbulnya kerusuhan. Dimana ada pihak pihak yang memaksa masuk ke gereja gereja, sekolah khatolik, dan juga toko milik orang tionghoa di Situbondo. Kondisi demikian tentu membuat timbulnya pengerusakan. Kondisi ini kembali berangsur membaik setelah adanya perdamaian antara kedua belah pihak.

Yang keempat ada Konflik Aceh tepatnya di daerah Singkil pada tahun 2015 yang mana diawali dengan aksi demonstrasi umat muslim. Dalam demonstrasi tersebut muslim menuntut pemerintah untuk membongkar gereja kristen namun akhirnya konflik tersebut dapat reda  dan terselesaikan dengan baik. Serta kerukunan antar umat beragama di Aceh tetap terpelihara hingga kini.

Yang kelima ada Konflik Poso yang mana konflik ini menunjukan bahwa sebuah perbedaan kepercayaan dapat menyulut terjadinya konflik yang semakin luas. Konflik ini berlangsung cukup lama. Salah satunya adalah karena kurangnya pemerintah dalam mengembalikan situasi menjadi kondusif. Dimulai dari tahun 1998 sampai 2000 konflik berkembang ke ranah kekerasan, sehingga semakin banyak korban jiwa. Pada tanggal 20 Desember 2001 kemudian ditandatangani perjanjian Malino oleh Jusuf Kala. Setelah tanda tangan tesebut situasi berangsur menjadi pulih kembali.

 Dari konflik-konflik tersebut kita dapat melihat kalau pemicu konflik tersebut karena adanya sifat intoleransi seperti kekerasan dan diskriminasi serta perasaan benci yang ada dalam individu seseorang. Sehingga emosi pun keluar dan orang tersebut melampiaskan kepada seseorang yang dia anggap berbeda dan akar dari penyebab dia. Dan pada akhirnya pihak yang menjadi sasaran tidak terima dan terjadilah konflik individu yang semakin lama menjadi konflik yang luas. Dan bahkan bisa berlangsung cukup lama karena belum ada titik terang antar kelompok konflik.

  Toleransi atau Toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin “tolerare” yang berarti “sabar dan menahan diri”. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu perseorangan baik itu dalam masyarakat ataupun lingkup lain. Toleransi sendiri ada banyak macamnya, contohnya seperti Toleransi pemikiran, Toleransi rasial, Toleransi sosial, Toleransi berbudaya, Toleransi Politik dan banyak lagi. Toleransi merupakan sikap positif yang baik demi menjaga kerukunan antar umat beragama, serta menjaga dari terjadinya konflik. Sikap Toleransi perlu disiapkan sejak kecil karena hal tersebut akan memberikan mindset yang akan tertanam hingga tumbuh menjadi dewasa. Toleransi sendiri berkaitan dengan pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab, disiplin, dan berpikir kritis. Nilai-nilai toleransi ini mmenjadi bekal untuk menghargai perbedaan dan pendapat sesama warga negara.

Toleransi sendiri di Indonesia sering dikaitkan dengan Bhineka Tunggal Ika. Yang mana itu merupakan simbol semboyan bangsa Indonesia yang tertulis di lambang Garuda Pancasila. Kata tersebut berada di pita yang dicengkeram di kaki burung garuda. Arti kata Bhineka Tunggal Ika yaitu Berbeda-beda tetapi tetap satu yang mana sudah diatur dalam pasal 36 A UUD 1945. Semboyan ini menghubungkan toleransi dari bangsa yang majemuk. Sikap dan perilaku toleran perlu diciptakan, caranya menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama yang kita anut, menjaga tali pertemanan dengan teman yang berbeda agama, menerima perbedaan yang ada, tidak mengganggu jalannya ibadah yang dilakukan oleh umat agama lain, Tidak merusak tempat ibadah ataupun mengganggu ketenangan agama lain. Dan masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan dalam bertoleransi dengan agama lain. Dari bertoleransi sendiri kita mendapatkan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan, yaitu Menjaga Keharmonisan antar masyarakat, kemudian Menjaga perdamaian dan dijauhkan dari perpecahan, menyatukan perbedaan yang ada, Menanamkan rasa persudaraan antar umat beragama, mengurangi sifat egois, memberikan pandangan yang lebih baik, Dapat menerima nilai nilai orang lain, dan Mendukung pemenuhan hak asasi manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UAS Pengantar Studi Organisasi

Pentingnya Kerja Sama dan Tata Kelola yang Baik dalam Pelaksanaan Pelayanan Publik

Summary+ Pengantar Studi Organisasi